Software Point of Sale (POS) menjadi bagian penting dalam operasional bisnis modern. Teknologi ini membantu bisnis mencatat transaksi, mengelola stok, memantau penjualan, hingga menyusun laporan keuangan. Namun, sebelum software POS berkembang seperti sekarang, proses transaksi dilakukan menggunakan mesin kasir manual yang memiliki fungsi terbatas.

Perkembangan POS berlangsung selama lebih dari satu abad, mulai dari mesin pencatat uang hingga sistem digital yang terhubung dengan internet. Perubahan ini mengikuti kebutuhan bisnis untuk melayani pelanggan dengan lebih cepat dan mengelola data penjualan secara efisien.
Point of Sale (POS) merupakan sistem yang berfungsu untuk mencatat dan memproses transaksi penjualan ketika pelanggan membeli barang atau jasa. Sistem POS modern biasanya terdiri dari perangkat keras, seperti komputer atau tablet, serta software untuk mengelola transaksi.
Menurut IBM dalam artikel sejarah ‘Retail and Point-of-Sale Systems’, perkembangan POS membantu bisnis meningkatkan efisiensi kerja, mengawasi arus kas, dan mengelola persediaan. Dengan demikian, POS modern tidak hanya berfungsi sebagai mesin kasir, tetapi juga menjadi alat untuk mendukung pengelolaan bisnis.
Sebelum mesin kasir ditemukan, pedagang mencatat transaksi menggunakan buku penjualan, nota, atau catatan utang pelanggan. Total pemasukan dihitung secara manual, kemudian dibandingkan dengan uang yang diterima.
Metode ini cukup untuk bisnis dengan jumlah transaksi sedikit. Namun, ketika toko semakin ramai, pencatatan manual menjadi lebih sulit. Pemilik usaha juga menghadapi risiko kesalahan perhitungan dan kehilangan uang karena tidak semua transaksi tercatat dengan baik.
Menurut koleksi sejarah mesin kasir dari Smithsonian National Museum of American History, meningkatnya transaksi tunai pada abad ke-19 membuat pemilik bisnis membutuhkan cara yang lebih aman untuk menyimpan uang dan mencatat penerimaan.
Mesin kasir mulai berkembang pada akhir abad ke-19. James Ritty, seorang pemilik usaha di Dayton, Ohio, Amerika Serikat, mengembangkan mesin kasir setelah melihat kebutuhan untuk mengawasi uang yang diterima karyawan.
Smithsonian National Museum of American History menjelaskan bahwa Ritty dan saudaranya, John, membuat rancangan mesin kasir pada 1870-an. Mesin tersebut menggunakan mekanisme mekanis untuk mencatat jumlah transaksi dan menampilkan angka pada bagian depan.
Pada 1884, John H. Patterson membeli bisnis dan hak terkait mesin kasir Ritty, lalu mengembangkan National Cash Register Company atau NCR. Perusahaan ini kemudian menjadi salah satu produsen utama mesin kasir.
Mesin kasir mekanis membantu pemilik bisnis menghitung pemasukan dan mengurangi risiko penyalahgunaan uang. Namun, pencatatan dan pengelolaan stok masih membutuhkan proses tambahan di luar mesin.
Memasuki abad ke-20, mesin kasir terus berkembang. Mesin yang awalnya menggunakan mekanisme mekanis mulai dilengkapi komponen listrik dan elektronik.
Menurut Smithsonian, mesin kasir elektronik mulai tersedia setelah perkembangan kalkulator elektronik pada 1950-an dan 1960-an. Pada 1970-an, perangkat ini semakin banyak digunakan dan mulai memiliki kemampuan untuk menghitung transaksi secara elektronik, mencetak struk, serta menyimpan informasi penjualan.
Perkembangan tersebut menjadi tahap penting menuju POS modern. Meski demikian, mesin kasir elektronik generasi awal masih memiliki kemampuan integrasi dan pengolahan data yang terbatas dibandingkan software POS saat ini.
Perkembangan komputer membawa perubahan besar dalam sistem penjualan. Pada 1973, IBM memperkenalkan sistem supermarket IBM 3650 dan 3660 yang menghubungkan terminal penjualan dengan sistem komputer pusat.
Dalam catatan sejarahnya, IBM menjelaskan bahwa sistem tersebut memungkinkan transaksi dicatat secara digital dan data penjualan digunakan untuk memantau persediaan. Informasi yang terkumpul membantu pengelola toko mengetahui barang yang terjual serta menentukan kebutuhan pengisian stok.
Pada tahap ini, POS mulai berkembang dari alat pencatat transaksi menjadi bagian dari sistem informasi bisnis. Data penjualan dapat digunakan tidak hanya untuk menghitung uang, tetapi juga membantu pengambilan keputusan operasional.
Barcode menjadi salah satu teknologi penting dalam perkembangan POS. Kode berbentuk garis tersebut memungkinkan produk dikenali oleh pemindai tanpa kasir harus memasukkan informasi barang secara manual.
Menurut IBM History pada penjelasan dalam situs resminya, standar Universal Product Code (UPC) resmi diperkenalkan pada 1 April 1973. Kemudian, pada 26 Juni 1974, sebuah kemasan permen karet Wrigley's Juicy Fruit menjadi produk pertama yang dipindai menggunakan UPC dalam transaksi ritel di Marsh's Supermarket, Troy, Ohio.
Penggunaan barcode mempercepat proses pembayaran dan membantu mengurangi kesalahan memasukkan harga. Data barang yang dipindai juga dapat dihubungkan dengan sistem persediaan sehingga bisnis lebih mudah memantau stok.
Tidak ada satu tahun yang dapat dianggap sebagai awal popularitas software POS di seluruh dunia. Perkembangannya berlangsung bertahap seiring komputer menjadi lebih terjangkau dan kebutuhan bisnis terhadap otomatisasi meningkat.
Pada 1970-an, sistem POS berbasis komputer mulai digunakan di supermarket dan toko besar. IBM mencatat bahwa sistem tersebut kemudian berkembang untuk memenuhi kebutuhan berbagai jenis bisnis, termasuk toko ritel dan restoran.
Pada 1980-an dan 1990-an, kemajuan mikroprosesor, layar komputer, jaringan, serta teknologi antarmuka membuat POS semakin fleksibel. Dalam sejarah POS yang dipublikasikan IBM, perkembangan teknologi layar sentuh dan jaringan pada 1990-an membantu sistem POS digunakan lebih luas, termasuk di restoran cepat saji.
Ketika internet semakin umum digunakan, software POS mulai berkembang melampaui perangkat kasir yang berdiri sendiri. Bisnis membutuhkan sistem yang dapat menghubungkan transaksi dengan layanan pembayaran, toko online, dan berbagai aplikasi operasional.
POS kemudian berkembang untuk mendukung pembayaran digital, pengelolaan pelanggan, serta pelaporan yang lebih mudah diakses. Pada bisnis restoran, misalnya, sistem dapat digunakan untuk menghubungkan pesanan, pembayaran, dan informasi yang diperlukan dapur.
Perkembangan ini membuat data penjualan lebih mudah dikumpulkan dan dianalisis. Pemilik usaha dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengevaluasi produk terlaris, waktu ramai, dan performa penjualan.
Cloud POS merupakan sistem POS yang menggunakan layanan cloud untuk menyimpan atau mengolah data dan menyediakan akses melalui jaringan internet. Bergantung pada sistemnya, pemilik usaha dapat memantau informasi penjualan dari perangkat lain tanpa harus selalu berada di toko.
Perkembangan bisnis teknologi seperti Square ikut mendorong perubahan tersebut. Menurut riwayat perusahaan dalam About Square padasitus squareup.com, Square diluncurkan pada 2009 dengan pembaca kartu untuk perangkat seluler, kemudian berkembang menjadi platform yang mencakup pembayaran, inventori, penjualan online, dan berbagai kebutuhan bisnis.
Cloud POS memudahkan bisnis mengelola beberapa lokasi melalui sistem terpusat. Namun, kemampuan akses, penyimpanan data, dan operasional ketika internet terputus bergantung pada rancangan masing-masing penyedia.
Software POS semakin diminati karena dapat menggabungkan berbagai aktivitas bisnis dalam satu sistem. Pencatatan transaksi menjadi lebih teratur, laporan penjualan dapat dibuat lebih cepat, dan pengelolaan stok dapat dihubungkan dengan data barang yang terjual.
Selain itu, POS modern mendukung berbagai metode pembayaran dan integrasi dengan aplikasi lain. Bagi restoran, sistem ini dapat membantu menghubungkan pesanan pelanggan dengan dapur serta laporan penjualan.
Kemudahan akses juga menjadi alasan penting. Bisnis tidak lagi harus mengandalkan rekap manual untuk mengetahui performa penjualan, meskipun hasil yang diperoleh tetap bergantung pada ketepatan pencatatan dan penggunaan sistem.
POS modern kini tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari perangkat kasir khusus hingga software yang berjalan pada komputer, tablet, dan ponsel. Fitur yang ditawarkan juga semakin luas, seperti manajemen inventori, program loyalitas, integrasi pembayaran, laporan keuangan, dan pengelolaan beberapa cabang.
Dalam sejarah Square, perusahaan tersebut mencatat peluncuran Square for Restaurants pada 2018 untuk mendukung kebutuhan bisnis restoran dari bagian pelayanan hingga operasional belakang. Contoh ini menunjukkan bagaimana POS berkembang menjadi platform yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri tertentu.
Untuk bisnis F&B, POS dapat dihubungkan dengan sistem pemesanan online, Kitchen Display System (KDS), dan layanan delivery. Integrasi tersebut membantu restoran mengelola pesanan dari berbagai sumber serta memantau penjualan dengan lebih terstruktur.
Ke depan, software POS berpotensi semakin terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI), analitik data, dan otomatisasi. Teknologi ini dapat membantu bisnis mengidentifikasi pola penjualan, memperkirakan kebutuhan stok, dan menyusun rekomendasi berdasarkan data transaksi.
Integrasi dengan pembayaran digital, perdagangan online, dan sistem operasional lainnya juga diperkirakan tetap menjadi bagian penting dari perkembangannya. Meski demikian, penerapan teknologi perlu mempertimbangkan keamanan data, biaya, dan kemudahan penggunaan.
Sejarah POS menunjukkan bahwa teknologi ini berkembang mengikuti kebutuhan bisnis, dari sekadar mencatat uang masuk menjadi sistem pengelolaan penjualan yang lebih menyeluruh. Bagi bisnis modern, memilih software POS yang sesuai dapat membantu meningkatkan efisiensi dan mendukung keputusan berdasarkan data.
Kini, Runchise hadir dengan sistem POS terintegrasi yang membantu bisnis F&B mengelola pesanan dan operasional dalam satu sistem. Saatnya beralih ke sistem kasir modern bersama Runchise agar pengelolaan restoran lebih mudah, efisien, dan terukur. Kunjungi website Runchise dan temukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda!
